Kamis, 26 Juli 2012

Pengecut.!

“Hai Q...” sapaku ramah pada laki-laki jangkung yang sedang berdiri di halte bis dan sibuk dengan BB-nya.

“Hoi... gimana kelas kamu? Asyik ga?” tanyanya tanpa lepas dari BB yang ada ditangannya.

Huh... pasti deh ga bisa lepas dari BB nya... pikirku dongkol.

“Asyik dari Hongkong..!! Temen kamu itu nyebelin banget tau...!!”

“Nyebelin gimana?” ujarnya kali ini ia berpaling dari BB nya dan menatap mataku. Cless... seperti ada embun yang mengalir di hatiku. Berdebar pula namun aku berusaha untuk biasa.

“Iya nyebelin pokoknya..!!” jawabku sambil berpaling. Ia duduk dengan rasa tertarik yang tinggi duduk di sebelahku dan menarikku.

“Nyebelin gimana sih Re? Emang Depe ngapain kamu?”

“Errrr.... enggak ngapa-ngapain sih. Tapi dia kalo ngajar overacting banget. Terutama matanya itu lhoo... dia suka banget maen mata sama aku. Sampai merinding aku...” ujarku kalem. Q tertawa melihat reaksiku yang mungkin agak sedikit berlebih.

“Kenapa tertawa?” tanyaku. Namun ia tetap tak bisa berhenti tertawa.

“Aaahhh sudahlah, cerita sama kamu itu sama aja kayak cerita sama tembok.!” Ujarku kesal sambil bangkit dari tempat duduk. Belum sampai kakiku melangkah Q memegang tanganku dan menahanku pergi.

“Iya yaa... jangan ngambek gitu donk Re. Hehehee... cuman lucu aja...” aku masih manyun.

“Kenapa sih aku ga masuk ke kelas kamu aja Q? Kelas kamu kayaknya lebih asik daripada temen kamu itu?”

“Jangan donk... kalo kamu masuk kelas aku bisa repot nanti...malah tambah kacau kalo ada kamu Re...” ujarnya sambil tertawa. Sementara itu aku masih belum bisa menenangkan hatiku yang terus berdegup kencang.

***

“Adik kau itu manis pisan...” ujar Depe kepadaku disela-sela makan siangku.

“Adikku yang mana?” tanyaku pura-pura tak mengerti.

“Adik kau yang masuk kelas aku itu...”

“Dia bukan adikku.!” Jawabku pendek.

“Ahh... siapapunlah itu¸ dia manis banget dimata aku. Tau ga kau?? Hatiku seperti sudah tercuri olehnya. Ahh... maling kecil adik kau itu...” ujarnya berapi-api.
Dia juga udah mencuri hatiku tolol. Hanya saja aku tak berani mengungkapkannya...

“Hei... kau kenapa bengong begitu? Makanlah... keburu makanan kau dingin itu...”

“Aahhh... berisik kau... pergilah sana.!” Pintaku yang sebenarnya ditujukan kepada galau di hatiku. Aihh... hatiku benar-benar terasa tertusuk timah panas. Bagaimana ini aku menenangkannya. Entahlah.

***

“Q, kamu sudah mantap dengan pilihan kamu?” tanya Bunda kepadaku sambil melihatku yang tengah asik sibuk dengan tumpukan pakaianku.

“Iya Bunda, ini udah menjadi pilihan Q. Bunda baik-baik disini yaa...” jawabku sambil memeluk Bunda.

“Iya, Bunda tahu ini pilihan kamu. Tapi bagaimana dengan Re? Apa kamu ga mau memberi tahunya?”

“Untuk apa Bunda? Disampingnya sekarang sudah ada Depe. Aku ga mau mengganggu kebahagiaannya...”

“Memangnya kamu yakin Re bahagia? Memangnya mereka sudah bersama?

“Depe cerita kalau ia sudah menyatakan perasaannya...”

“Lalu jawaban Re bagaimana?”

“Aku yakin, Re pasti menerimanya Bunda. Depe bisa membuatnya bahagia. Dibandingkan aku Bunda...”

“Akh... kamu terlalu banyak berfikir Q. Kapan pesawatmu akan terbang?”

“Besok sore Bunda, Bunda ga usah mengantarkan aku. Nanti bunda capek. Q berangkat sendiri saja ya...” ucapku tenang namun sebenarnya dihatiku benar-benar tertimbun kekecewaan yang besar. Iya, kecewa pada diriku sendiri karena kepengecutanku ini yang akhirnya membawaku pada sebuah kekalahan.

***

“Re....”

“Apa Ma?”

“Kamu ga main sama Q?” tanya ibuku santai.

“Enggak ma. Q sibuk banget katanya. Kenapa ma?”

“Enggak apa-apa. Aneh aja udah lama Q ga maen kesini?”

“Tau ma... sibuknya kebangetan dia ma.”

“Lalu laki-laki yang datang kemaren itu, pacar kamu Re?”

“Hah?? Yang mana ma?”

“Yang naek motor berisik banget itu lho... apa itu pacar kamu?” tanya mama penuh
selidik. Aku mencoba kembali mengingat-ingat.

“Ohh... Depe... bukan ma. Dia fans Re ma, tapi Re ga suka sama dia...”

“Oohh, kalo gitu Re suka sama siapa?” tanya mama sambil menkmati teh tariknya.

“Kenapa mama tiba-tiba tanya begitu?”

“Ya mama pengen tau aja. Umur kamu makin tua, tapi kamu ga ada pacar. Mama kan jadi kawatir...”

“Ikh... mama... ntar kalo udah waktunya juga aku punya kok...”

“Kalo sama Q gimana?”

“Ada apa sama Q ma?”

“Apa kamu suka sama Q?”

“Suka??”

“Iya...”

“Kenapa mama tanya seperti itu?”

“Karena mama ga pingin kamu menyesal...”

“Menyesal? Kenapa?”

“Karena Q sore ini berangkat ke Singapur untuk tes masternya disana. Entah kapan dia kembali ke Indonesia.”

“Apa????” teriakku terkejut.

“Q ke Singapur dan aku ga tau? Teman macam apa dia?” umpatku kesal dan menghembuskan nafas dengan kesal.

“Mama tau kamu sangat menyukai Q, selama ini kamu hanya bisa diam dan memperhatikan dia saja. Jadi susul saja dia kesana. Kemaren Bundanya Q telpon mama dan mengatakan semuanya. Q sangat mencintaimu namun karena ia terlalu pengecut ia memilih untuk pergi.”

“Enggak.... Re ga akan pergi. Q yang pengecut. Re ga akan mengalah untuk Q ma.” Ujarku mantap sambil pikiranku melayang entah kemana.
Maaf Q, aku menyukaimu namun aku tak bisa jika kamu meninggalkan aku seperti ini.

***

Kamis, 03 Mei 2012

Ketika SEMANGATmu mulai pudar...

Notes ini aku dedikasikan kepada teman-teman aku yang sedang merantau, yang sedang mengumpulkan semangat yang tercecer, yang sedang berjuang untuk menuntaskan kewajiban dan yang sedang semangat-semangatnya untuk melanjutkan hidup.

Aku, disini, yang jauh dari orangtua, jauh dari 'zona aman'ku sedang merasakan frustasi dan semangat yang turun. Aku merasa lelah untuk menjalani hidup ini. Ya... aku lelah.! Rasanya aku ingin meminta kepada penguasa bum untuk menghentikan hidupku. Aku benar-benar merasa lelah dan tertekan.

Menangis....
hanya itu yang aku bisa lakukan....

Lalu, aku berfikir... bahwa hidup tidak akan melunak kepadaku jika aku menjadi rapuh dan lemah seperti ini.

Ada seorang teman, yang dengan senang hati bercerita tentang kisahnya. Bagaimana ia menjalani hidup. Dari satu tempat ke tempat lainnya. Bagaimana ia dipindah dari satu pulau ke pulau lainnya. Ia jauh dari siapapun tapi ia begitu semangat.

Ia memberikan semangatnya melalui aksaranya yang halus dan senyuman yang hangat.

Aku ingin sekali memiliki semangat seperti ia. Yang mengantarkan ia menjadi sosok pria dewasa dengan pemikiran yang benar-benar dewasa. Awalnya aku salah menilai ia, tapi menurutku ia benar-benar menjadi pria yang matang. Seandainya tidak ada halangan, aku pasti tidak akan menolak pinangannya.

Ia bercerita bahwa ia memiliki cita-cita untuk bekerja di tambang. See, tambang adala pekerjaan yang menjanjikan. Ia memiliki cita-cita itu sejak ia masih duduk di SMA. Setelah ia lulus SMA ia pun memilih kuliah dijurusan teknik sesuai dengan cita-citanya. Setelah ia lulus kuliah ia melanjutkan kerja. Kerjanya pun tidak langsung instan menjadi pegawai tambang. Namun ia melewati proses yang lumayan panjang. Dari awal dia kerja menjadi customer service di sebuah perusahaan taksi, lalu pindah kepabrik dari satu pabrik ke pabrik lainnya, pindah lagi di kontraktor, pindah lagi ke proyek-proyek lainnya hingga sekarang ia mampu mendapatkan cita-citanya menjadi pegawai tambang.

Itu bukanlah proses yang mudah. Sungguh.... aku merasakannya....

Saat ini, aku menyadari apa yang aku hadapi adalah sebuah proses yang panjang. Yang jika aku memang bersungguh-sungguh dan percaya kepada Tuhan-ku insyaallah akan menjadi hasil yang baik.

Aku memiliki sebuah cita-cita, namun aku sadar sepenuh hati bahwa aku tak akan mencapai cita-cita ku TANPA melalui proses yang panjang (dan kadang menyakitkan).

Aku tidak ingin tunduk kepada dunia, namun aku ingin menghadapi dunia dengan dada yang busung dan kepala yang tegak.

Terimakasih kepada dia yang telah mengingatkanku tentang proses dan mengingatkanku untuk tetap kuat menghadapi dunia.

Bismillah....,


Ingatlah kawan tentang cerita ini, ketika semangatmu mulai pudar....



-tyz-

Rabu, 18 April 2012

Aku untuk siapa?

Aku ada
untuk siapa?
ketika sapa pun tak hangat (lagi) untukku
ketika cinta pun t'lah berbalik arah melawanku
ketika rindu yang menyayat ini tak bertuan kepada waktu

Aku ada
nyata
untuk siapa?
ketika mimpi menjadi kelabu...
berirama dengan nyanyian sendu
bersekongkol dengan nyawa yang melayu...

Ukh...
aku (masih) bertanya
aku ada
untuk siapa?

-tyz-

Kamis, 12 April 2012

Cermin.!

Kamu pikir kamu siapa? huh?
Kamu pikir kamu udah sempurna?
Kamu pikir kamu itu yang terbaik?
Kamu pikir kamu udah melakukan yang terbaik?

KAMU PIKIR KAMU SIAPA? HUH????

Liat sekitar.!
Liat temanmu.!
Liat kerjaanmu.!

Apa udah sempurna? huh?
Apa udaH beres? huh?
Apa udah sesuai dengan aturan? huh?

LIAT PAKE MATA KEPALA.!
TURUNKAN KESOMBONGANMU.!
RENDAHKAN HATIMU.!

tapi tolong... bimbinglah Ia...
Ia masih baru, Ia masih belajar, Ia masih butuh tuntunan...
Jangan bodohi ia dengan pengetahuanmu...

Kamis, 05 April 2012

Masih, terajam senyummu....

Aku duduk dan menundukan kepala. Menghayati apapun yang Teh Ika katakan. Didampingi dengan alunan lembut lagu Ayah dari Koes Plus, membuat air mataku tak tertahankan lagi, mengalir membasahi pipiku yang caby dan jatuh di pangkuanku. Terus alunan lembut nada-nada Koes Plus menghantam pertahanan hatiku.

Tangisanku semakin keras, begitu juga dengan kawan-kawanku sejawat. Suara tangis mewarnai sore ini. Sementara itu Teh Ika masih semangat menampar kami dengan aksaranya yang halus. Dinginnya air conditioner tak lagi aku rasakan. Tubuhku bergetar, nafasku sesak. Namun hatiku terus terajam dengan rindu.

Alunan Koes Plus berganti dengan senandung lagu Ibu dari Melly Goeslaw. Fikiranku melayang jauh. Teringat pada pertengkaran-pertengkaran yang pernah aku alami dengan mama. Perbedaan pendapat yang tanpa sadar membuatnya terluka, sikapku yang selalu tanpa sadar menyalahkannya dan membuatnya terluka. Aku sungguh tak menyadarinya.


Mama, Ayah... alunan lagu ini terus mengusik hatiku. Rindu aku melihat senyumu Ayah, Mama. Rinduku melihat tawamu, melihat pancaran kebanggaan akan anakmu dari sorot matamu yang lembut, Ayah, Mama.

Ketika teh Ika membimbingku untuk berdiri, menyalami dan memelukku dengan hangat. Tangisku pecah. Bagai anak kecil yang kehilangan mainannya. Seperti aku, yang sedang jauh darimu dan merasa kehilangan senyumanmu. Hatiku membeku, lidahku kelu dan bahkan tiba-tiba saja lantai yang ku pijak ini tak lagi terasa dingin. Aku merindumu Ayah. Aku merindumu Mama. Simpankan senyum banggamu untuk anakmu yang akan terus mencintaimu.

Kamis, 22 Maret 2012

Ingatlah, ini perjalanan kita..


“Ini ransum makanan udah siap semua?” tanya Akbar kepada team kami. Aku kembali mengecek barang bawaan yang telah kami siapkan. Meskipun ini bukan perjalanan yang terlalu panjang, namun penjelajahan ini benar-benar akan menguras tenaga kami.
“Kayaknya udah beres Bos,” jawabku kalem. Fuddin melemparkan kemejanya kearahku seraya berkata, “pake kemeja itu, aku ga suka kamu pake baju yang ngeliatin bentuk tubuhmu.!” Aku menerimanya dengan manyun. Memang aku hanya menggunakan tank top yang lumayan ketat dan celana pendek se lutut. Bukan apa-apa, karena ini penjelajahan aku hanya ingin menggunakan baju yang simple.
Emangnya menjelajahi hutan mesti pake rok sama baju yang besar-besar? Yang ada aku jatuh mulu. Gumamku tak jelas. Sementara itu Fuddin, Remi dan Akbar berdiskusi menjauh dariku.
“Neng, kamu udah siapin semua kan ransum makannya?” Ucap Vindy teman baikku yang ikut serta dalam penjelajahan ini.
“Insyaallah udah. Remi juga udah beli macem-macem tadi dipasar Boja.”
“Oke, ayo semua kumpul disini. Fuddin, Remi, Vindy, dan Fara. Sebelum kita memulai menjelajahi hutan ini, lebih baik kita berdoa dulu menurut kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai.!” Pimpin Akbar.
“Selesai.!”
“Semangat team…!!!” teriak Akbar pemimpin kami yang disambut dengan tepukan meriah.
Masing-masing orang membawa 1 ransel. Sebagian ransum makanan ada di ranselku sebagian lagi ada diransel Vindy -mengingat hanya kami berdua yang berstatus cewek- akhirnya kami membagi dua. Ransel Fuddin dan Remi berisi perlengkapan untuk menjelajahi ini. Ada kompas, tali, pisau lipat dan sebagainya. Sebenarnya ini bukan perjalanan yang besar, namun karena tempat ini masih benar-benar “asli” dan alami kami menyiapkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi.
Ini adalah perjalanan kesekian kami. Kami biasa berkumpul juga karena kami menemukan tempat-tempat yang masih alami dan ada sesuatu hal yang menarik disana. Curug Lawe. Ya, Curug Lawe, pertama kali kami mengetahuinya ketika Bram dan teamnya tersesat disekitar hutan-hutan disini lalu menemukan air terjun itu. Awalnya mereka tidak tau apa nama air terjun ini hingga mereka akhirnya menemukan perkampungan warga dan cerita tentang air terjun itu. Karena penasaran, Akbar mengajak kami untuk menjelajahi hutan dan mencari curug itu.
Kami memarkir motor di perkampungan yang sempit. Aku juga tak tahu apa nama perkampungan itu. Namun setelah mendapat pengarahan dari Pak Broto warga setempat, kami sedikit mengerti. Setelah briefing kami berlima segera menggendong ransel dan berangkat. Perjalanan dimulai dengan tanjakan dari perkampungan menuju bukit entah apa namanya. Melewati sawah dan ada seorang bapak-bapak yang sedang memandikan sapi tidak jauh dari situ. Tanjakan ini lumayan terjal dan sempit. Mungkin hanya pengendara sepeda motor yang nekat yang berani melewati ini. Diujung tanjakan ini kami dikejutkan oleh pemakaman umum. Ya, ternyata disini ada pemakaman umum. Sejenak kami terdiam dan ‘permisi’ untuk penghuni disitu.
Akbar yang terus memimpin kami menginsyaratkan untuk melanjutkan perjalanan. Akbar didepan, Vindy, Remi, Aku dan terakhir ada Fuddin. Jalan yang kami lalui berupa jalan setapak. Sempit dan masih berupa tanah dan rumput liar. Tidak berapa lama kemudian kami menemukan padang rumput yang benar-benar hijau dan enak dipandang. Tak jauh dari situ ada aliran air yang digunakan untuk PLTA. Mungkin air dari Curug Lawe yang digunakan, fikirku.
“Foto dulu yok…!” ajak Remi sambil mengaktifkan kamera DSLRnya. Aku siap berpose bersama dengan lainnya. Fuddin tiba-tiba menggenggam tanganku, aku memandangnya dengan kaget dan takjub. Begitu juga dengan Vindy namun Akbar terlihat biasa saja. Well, Fuddin adalah orang yang paling anti megang tangan cewek kalo ga dalam keadaan ‘darurat’ saja. Ini aneh… fikirku.
Setelah berfoto sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan ini disambut dengan pohon-pohon perdu namun berbuah. Lagi-lagi aku tak tahu apa nama buah itu. Bodohnya aku. Setelah itu, ada sebuah tanda yang dibuat dari potongan papan yang menunjukan petunjuk jalan menuju Curug Lawe. Petunjuk itu mengarahkan untuk turun dan mulai masuk hutan. Disini perasaanku mulai was-was. Karena jalan untuk turun saja sudah terlihat gelap, dalam dan licin. Pelan-pelan Akbar memimpin kami untuk turun dibantu dengan Remi dan Fuddin yang menjagaku dari belakang.
Yap, begitu kami turun disambut dengan suara jangkrik dan lembab. Terus kami mengikuti jalan yang menuntuk kami terus turun ke dalam hutan. Sepatuku yang berwarna putih sudah mulai kusam karena tanah yang basah.
“Bar, depan itu ada jalan setapak. Lewat situ kali Bar,” ujar Remi sambil menunjuk jalan setapak. Mungkin lebih tepatnya itu adalah ujung tebing. Karena disebelah kanan kami ada aliran air seperti kalen dan sebelah kiri ada jurang, melihatnya saja sudah cukup membuat aku merinding. Fuddin mendekat kearahku dan memegang bahuku. Mungkin mencoba menenangkan aku yang mulai phobia, sementara Vindy mulai berlari-lari kecil mengikuti jejak Akbar.
Di ujung jalan setapak ini ada sebuah jembatan tua yang dibawahnya ada aliran air juga. Sedikit ragu aku melangkahkan kaki. Takutnya karena saking tuanya jembatan itu rubuh tiba-tiba. Setelah jembatan itu kami melanjutkan perjalanan hingga menemukan sebuah tempat peristirahatan. Bukan pendopo, tapi seperti buk kecil yang ada pipa-pipanya. Mungkin itu sumber dari PLTA nya. Disini kami mulai bisa melihat matahari lagi. Dan membuat badan kami berkeringat sejenak setelah ditekan oleh kelembaban. Sementara Akbar dan Fuddin berkelilingi melihat situasi dan mencari jalan selanjutnya.
“Kayaknya kita harus nyebrang aliran air ini deh, soalnya diseberang situ aku melihat ada tali yang terulur. Kita harus menanjaki tebing itu deh. Gimana? Siap?” tanya Akbar.
“Let’s go.!” Ucapku semangat disambut dengan senyuman mereka. Kali ini posisi dibalik. Fuddin yang memimpin, di belakangnya ada aku, Vindy, Remi dan Akbar. Ini adalah tanjakan yang lumayan tinggi. Tanahnya sama-sama licin ketika kami turun tadi. Menggunakan tali yang terulur tadi kami menaiki tanjakan ini dengan perlahan. Setelah tanjakan ini, disambut lagi dengan kegelapan hutan. Namun, sampai disini jalan setapak mulai bercabang menjadi 3. Fuddin terus melangkahkan kakinya sementara yang lainnya mengekor. Melewati batang pohon yang rubuh dan kerikil-kerikil yang lumayan tajam. Perjalanan ini diwarnai dengan canda tawa kami sehingga kami tidak merasa takut atau lelah. Jalan tapak semakin meluas lalu mengecil lagi hingga kami bertemu dengan aliran air lagi. Kali ini lumayan deras.
“Kayaknya curug nya udah deket deh,” ujar Vindy.
“Maybe,” jawabku.
“Tapi kayaknya kita musti ngelewatin batang kayu ini deh.” Ujar Fuddin sambil melihat batang kayu yang cukup besar dan panjang melintang melintasi aliran air menuju ke seberang hutan. Aku melangkah untuk pertama kalinya menyeberangi batang kayu itu disusul Fuddin dan yang lainnya.
Tiba-tiba saja, BYUURRRRR…!!
Keseimbanganku goyah dan aku terjatuh. Kakiku lumayan sakit namun sebagian bajuku telah basah. Fuddin yang dengan tanggap mau menangkapku pun ikutan jatuh dan basah. Kami hanya tertawa. Akbar dengan sigap langsung mendirikan kami dan mengecek apakah ada yang terluka atau tidak. Kakiku terasa sedikit sakit namun itu bukan masalah yang besar.
Setelah penyeberangan itu kami dihadapi lagi dengan hutan yang semakin gelap dan jalan yang semakin terjal. Jalan setapak perlahan mulai hilang. Kami mencari sendiri jalan setapak untuk menuju curug tersebut. Cukup jauh juga perjalanan yang kami tempuh. Hutan benar-benar setia menemani perjalanan kami. Berkali-kali baik aku, Vindy, Akbar, Remi maupun Fuddin terpeleset di jalan ini. Karena tanah yang basah dan lembab juga karena jalan ini naik dan turun.
Kami tiba di 2 jalan yang berbeda arah. Entah jalan mana yang seharusnya kami pilih. Dengan kepercayaan diri Fuddin memilih salah satu jalan itu tanpa melihat kompas.
Tiba-tiba saja Fuddin teriak, “ARRGGHHHH…!!”. Spontan kami langsung menyusul dan mendapati Fuddin tengah terpeleset dan jatuh menuruni jalan dan melewati batang pohon kecil-kecil. Akbar dengan gesit segera lari dan menjaga dari bawah, aku tanpa pikir panjang menyusul Fuddin ‘terjun’, Remi menyusul Akbar sementara Vindy hanya komat kamit baca mantra.
Fuddin mendarat dengan sukses setelah di halau oleh Akbar dan ditarik oleh Remi. Sedangkan aku melesat melewati Fuddin dan berpegangan di kaki Akbar. Posisi yang konyol. Namun akhirnya semua terhenti. Aku manarik diri dibantu oleh Remi sementara Akbar melihat kondisi Fuddin. Vindy dengan cepat menyusul kami dibawah. Lenganku terasa perih dan kebas. Vindy melihatnya dan ternyata ada sobekan cukup dalam yang mengakibatkan kemeja Fuddin sobek. Sementara Fuddin, kaki-nya penuh lumpur dan baju nya kotor dan ada noda bekas darah, ketika dibuka ternyata punggungnya penuh dengan sayatan kecil.
Setelah beberapa saat istirahat dan mengobati luka, Akbar mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan. Remi menggandeng Fuddin dan Vindy memapahku. Kami melewati aliran air lagi dan membasuh bagian tubuh kami yang kotor dan terluka. Tak jauh dari situ terdengar suara air gemericik. Vindy dengan semangat berteriak, “Lihaaatttttt…!! Kita udah semakin dekat.!”
“Ayok cepat kita kesana.!” Teriak Remi antusias menyusul Vindy dan melupakan Fuddin. Aku bangun dan memapah Fuddin, sementara Akbar terus berjalan melesat bersama Remi dan Vindy.
Memang suara gemericik air sudah terdengar. Mungkin tidak jauh dari sini curug itu berada. Benar saja, setelah belokan yang tertutup tebing dan batu besar yang menghalangi terlihat air terjun yang begitu menjulang tinggi dan deras. Kami semua terpesona. Di sisi air terjun terlihat air terjun kecil-kecil dan sebuah pelangi yang indah. Tidak jauh dari situ ada sebuah batang pohon yang melintang. Vindy dan Remi melepas ransel dan sepatunya disitu dan langsung bermain air. Akbar masih takjub dengan keindahan alam yang ada dihadapannya. Serasa tidak mau melewatkan moment indah itu, ia segera mengambil kamera dan mengabadikannya. Tanpa sadar jemariku dan Fuddin saling bertaut. Melangkah secara bersama mendekati air terjun tersebut. Kami semua tersenyum. Ini adalah keindahan alam yang masih tersembunyi, yang masih alami dan yang masih asli. Suara air terjun, angin yang kencang, dan tawa kami semua berpadu menjadi suatu keindahan alam yang tak tertandingi.

Memoar Curug Lawe
Akhir 2007

Kamis, 15 Maret 2012

Ini, saatnya....

Aku melangkah dengan ringan melalui beberapa orang yang sedang asik berdiskusi tentang suatu hal. Seperti biasanya, aku melayangkan senyum manisku dan menyapa mereka dengan ramah. Tidak ada yang istimewa hari ini, selain jadwalku mengisi acara di sebuah stasiun radio di kotaku yang kecil ini. Siaran favoritku dan yang paling aku tunggu.

Aku memasuki koridor studio dengan langkah kaki yang tertahan dan pelan karena sedang ada rekaman di studio 4 sedangkan aku akan siaran di studio 2. Aku menyapa Pak Hilman, Bu Tike dan Pak Yoga dengan semangat namun sepertinya mereka tak menyadari kedatanganku. Aku pun melanjutkan berjalan menuju studio 2. Sepi. Ruang tamu yang biasa ramai oleh anak-anak magang sore ini terlihat sepi. Hanya terdengar suara radio. Aku melihat kedalam studio, ada mbak Kiki penyiar paling supel menurutku tengah asik bercuap-cuap sendiri. Aku melambaikan tangan kearahnya, namun mungkin karena konsentrasinya yang penuh ia tidak menyadari aku ada.

Aku melihat jam yang menempel didinding dengan manis. Masih jam setengah 4, bearti masih ada setengah jam lagi menunggu fikirku.

Sambil menunggu, aku memperhatikan mbak Kiki siaran dengan wajah yang terlihat seperti dipaksakan tertawa. Meskipun terdengar renyah seperti biasanya, namun wajahnya benar-benar terlihat berbeda dari biasanya.

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Mbak Kiki mengakhiri siarannya dan keluar dari studio. Ia menatapku, aku tersenyum, Ia melangkah terus melewati aku dan mengambil sebuah Aqua gelas dan masuk lagi keruan studio, meninggalkanku. Aku tersenyum dan terus memperhatikan dia. Ia meletakkan Aqua itu di meja seperti biasanya aku menaruh Aqua. Itu Aqua untukku. Aku menyadari itu.

"Baik sahabat kreatif, jumpa lagi dengan Kiki di Bahana Sastra," bukanya sambil memainkan mixernya.

"Hari ini kita mau membahas apa ya?Hmmmm...."

"Sepertinya hari ini cocok banget buat nge-bahas profile dari seorang penulis muda yang bernama Nirmala..."

"Sebelum kita mulai, yang mau kirim puisi boleh kirim ke noor 081325112212." Ucapnya sambil memulai lagu yang berjudul Saat Terakhir dari ST12.

Mbak Kiki melepas earphonenya dan memejamkan mata. Seolah-olah ia sedang menghayati lagu yang ia putar itu. Sedetik kemudian, aku melihat air matanya meleleh dan aku hanya mampu tersenyum.

"Balik lagi barengan Kiki di Bahana Sastra. Ups... ternyata sudah ada beberapa pesan yang masuk nih -- Sore mbak Kiki, kok sendirian aja siarannya, mbak Nirmala kemana?-- " Aku mendengar suaranya tercekat seperti sedang menahan sesuatu.

"Aduh, kemana ya mbak Nirmala yang biasa nemenin aku siaran?" gumamnya.

"Sahabat kreatif, hari ini aku siaran sendirian dan membahas profile dari seorang penulis muda bernama Nirmala. Sahabar kreatif, pagi ini aku mendapat telfon bahwa teman kita yang biasa mendampingi aku saat siaran telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa, mari kita sejenak berdoa memohon kedamaian untuk NIrmala," Kiki mulai sesenggukan. Aku kembali tersenyum, Ini saatku pergi, batinku, surga sudah menanti kedatanganku.