I loved to make you shy.
Your cheekbones are making me overwhelmed.
Remember me when you pass this way.
Remember me when you listen this song.
I just try to make you know, Im here even thought u'll forget me (one day).
Word by word that you sent to me
makes me wanna jump over there
and give you a bunch of bomb.
When you leave the word behind me
without a single ring,
I see the empty wall.
Fluttering to start first
and now cant ended easily.
Arguing
but we embrace the same thing.
The joy we cant see,
the thing we cant touch.
This night.
Like the maze,
im following the star
and getting lost in every line that you throw to me.
You built your self
but you found me in the mirror.
Am I nothin' to you?
-tyz-
Inspirated by 5743e57 - uptown girl
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label love. Tampilkan semua postingan
Jumat, 02 September 2016
Senin, 30 Maret 2015
Cerita Kita
Aku fikir kita tengah tersesat. Tanpa peta yang jelas. Tentang tujuan akhir yang kita cari bersama.
Aku fikir, kita tengah terpedaya. Alunan waktu yang menggugurkan keraguan dan luka, berganti binar yang tak terelakan.
Mungkin kita lengah tentang masa yang tak bisa kita kuasai bersama. Mencumbu malam dengan gairah khas anak muda.
Sekali lagi...
Mungkin kita lengah pada waktu yang kita kira milik kita.
Lalu...
Waktu tidak pernah ingin berhenti, seperti seberapa keras kita menghentikan kereta kencana untuk waktu yang lama, ia tetap harus berjalan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Layaknya jarum jam yang tak bisa berhenti. Berputar dan berpindah dari satu angka ke angka yang lain.
Seperti itu kisah kita.
Tak pernah berhenti disitu.
Waktu membawamu semakin jauh... jauh hingga aku lelah, berbasa basi dengan waktu demi menanti kepastian yang tak pernah pasti. Waktu pula yang menghadirkan ia sebagai labuhan mu, dan meyakinkanmu untuk berhenti disana.
Apa yang dapat ku perbuat?
Pada tempat dimana aku menanti, mengemasi setiap kenangan yang tersisa. Mendapati bahwa apa yang mereka katakan menjadi suatu pembenaran yang tak terpatahkan.
Sejak awal, seharusnya aku meninggalkanmu. Tanpa spasi keraguan sedikitpun.
Seharusnya....
Maka, pendar yang telah redup dengan berbagai koper berisi mimpi dan cita-cita, aku melepasmu. Melepas segala pengertian dan kesabaran yang kau tawarkan dengan secawan senyum.
Lalu,
Pada sobekan tiket di peron, dan pada sapaan ramah petugas berseragam, aku katakan padanya, diujung salah satu sudut tempat ini aku meninggalkan satu tas berisi perasaan yang tak ingin aku miliki lagi. Ditemani dengan snack kenangan yang ingin aku tanggalkan. Biarkan saja disana, hingga membusuk dan mati. Aku tak ingin menjumputnya lagi.
Dan pada lonceng berikutnya, satu persatu anak tangga kujajaki menuju sebuah gerbong yang akan memberikan cerita baru untukku.
-ty'z-
Senin, 10 Nov 2014 05.17
Dalam ruang tunggu Stasiun Gambir
Aku fikir, kita tengah terpedaya. Alunan waktu yang menggugurkan keraguan dan luka, berganti binar yang tak terelakan.
Mungkin kita lengah tentang masa yang tak bisa kita kuasai bersama. Mencumbu malam dengan gairah khas anak muda.
Sekali lagi...
Mungkin kita lengah pada waktu yang kita kira milik kita.
Lalu...
Waktu tidak pernah ingin berhenti, seperti seberapa keras kita menghentikan kereta kencana untuk waktu yang lama, ia tetap harus berjalan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Layaknya jarum jam yang tak bisa berhenti. Berputar dan berpindah dari satu angka ke angka yang lain.
Seperti itu kisah kita.
Tak pernah berhenti disitu.
Waktu membawamu semakin jauh... jauh hingga aku lelah, berbasa basi dengan waktu demi menanti kepastian yang tak pernah pasti. Waktu pula yang menghadirkan ia sebagai labuhan mu, dan meyakinkanmu untuk berhenti disana.
Apa yang dapat ku perbuat?
Pada tempat dimana aku menanti, mengemasi setiap kenangan yang tersisa. Mendapati bahwa apa yang mereka katakan menjadi suatu pembenaran yang tak terpatahkan.
Sejak awal, seharusnya aku meninggalkanmu. Tanpa spasi keraguan sedikitpun.
Seharusnya....
Maka, pendar yang telah redup dengan berbagai koper berisi mimpi dan cita-cita, aku melepasmu. Melepas segala pengertian dan kesabaran yang kau tawarkan dengan secawan senyum.
Lalu,
Pada sobekan tiket di peron, dan pada sapaan ramah petugas berseragam, aku katakan padanya, diujung salah satu sudut tempat ini aku meninggalkan satu tas berisi perasaan yang tak ingin aku miliki lagi. Ditemani dengan snack kenangan yang ingin aku tanggalkan. Biarkan saja disana, hingga membusuk dan mati. Aku tak ingin menjumputnya lagi.
Dan pada lonceng berikutnya, satu persatu anak tangga kujajaki menuju sebuah gerbong yang akan memberikan cerita baru untukku.
-ty'z-
Senin, 10 Nov 2014 05.17
Dalam ruang tunggu Stasiun Gambir
Senin, 15 September 2014
Bila ku jatuh cinta...
Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
-tyz-
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
-tyz-
Kamis, 26 Juli 2012
Pengecut.!
“Hai Q...” sapaku ramah pada laki-laki jangkung yang sedang berdiri di halte bis dan sibuk dengan BB-nya.
“Hoi... gimana kelas kamu? Asyik ga?” tanyanya tanpa lepas dari BB yang ada ditangannya.
Huh... pasti deh ga bisa lepas dari BB nya... pikirku dongkol.
“Asyik dari Hongkong..!! Temen kamu itu nyebelin banget tau...!!”
“Nyebelin gimana?” ujarnya kali ini ia berpaling dari BB nya dan menatap mataku. Cless... seperti ada embun yang mengalir di hatiku. Berdebar pula namun aku berusaha untuk biasa.
“Iya nyebelin pokoknya..!!” jawabku sambil berpaling. Ia duduk dengan rasa tertarik yang tinggi duduk di sebelahku dan menarikku.
“Nyebelin gimana sih Re? Emang Depe ngapain kamu?”
“Errrr.... enggak ngapa-ngapain sih. Tapi dia kalo ngajar overacting banget. Terutama matanya itu lhoo... dia suka banget maen mata sama aku. Sampai merinding aku...” ujarku kalem. Q tertawa melihat reaksiku yang mungkin agak sedikit berlebih.
“Kenapa tertawa?” tanyaku. Namun ia tetap tak bisa berhenti tertawa.
“Aaahhh sudahlah, cerita sama kamu itu sama aja kayak cerita sama tembok.!” Ujarku kesal sambil bangkit dari tempat duduk. Belum sampai kakiku melangkah Q memegang tanganku dan menahanku pergi.
“Iya yaa... jangan ngambek gitu donk Re. Hehehee... cuman lucu aja...” aku masih manyun.
“Kenapa sih aku ga masuk ke kelas kamu aja Q? Kelas kamu kayaknya lebih asik daripada temen kamu itu?”
“Jangan donk... kalo kamu masuk kelas aku bisa repot nanti...malah tambah kacau kalo ada kamu Re...” ujarnya sambil tertawa. Sementara itu aku masih belum bisa menenangkan hatiku yang terus berdegup kencang.
***
“Adik kau itu manis pisan...” ujar Depe kepadaku disela-sela makan siangku.
“Adikku yang mana?” tanyaku pura-pura tak mengerti.
“Adik kau yang masuk kelas aku itu...”
“Dia bukan adikku.!” Jawabku pendek.
“Ahh... siapapunlah itu¸ dia manis banget dimata aku. Tau ga kau?? Hatiku seperti sudah tercuri olehnya. Ahh... maling kecil adik kau itu...” ujarnya berapi-api.
Dia juga udah mencuri hatiku tolol. Hanya saja aku tak berani mengungkapkannya...
“Hei... kau kenapa bengong begitu? Makanlah... keburu makanan kau dingin itu...”
“Aahhh... berisik kau... pergilah sana.!” Pintaku yang sebenarnya ditujukan kepada galau di hatiku. Aihh... hatiku benar-benar terasa tertusuk timah panas. Bagaimana ini aku menenangkannya. Entahlah.
***
“Q, kamu sudah mantap dengan pilihan kamu?” tanya Bunda kepadaku sambil melihatku yang tengah asik sibuk dengan tumpukan pakaianku.
“Iya Bunda, ini udah menjadi pilihan Q. Bunda baik-baik disini yaa...” jawabku sambil memeluk Bunda.
“Iya, Bunda tahu ini pilihan kamu. Tapi bagaimana dengan Re? Apa kamu ga mau memberi tahunya?”
“Untuk apa Bunda? Disampingnya sekarang sudah ada Depe. Aku ga mau mengganggu kebahagiaannya...”
“Memangnya kamu yakin Re bahagia? Memangnya mereka sudah bersama?
“Depe cerita kalau ia sudah menyatakan perasaannya...”
“Lalu jawaban Re bagaimana?”
“Aku yakin, Re pasti menerimanya Bunda. Depe bisa membuatnya bahagia. Dibandingkan aku Bunda...”
“Akh... kamu terlalu banyak berfikir Q. Kapan pesawatmu akan terbang?”
“Besok sore Bunda, Bunda ga usah mengantarkan aku. Nanti bunda capek. Q berangkat sendiri saja ya...” ucapku tenang namun sebenarnya dihatiku benar-benar tertimbun kekecewaan yang besar. Iya, kecewa pada diriku sendiri karena kepengecutanku ini yang akhirnya membawaku pada sebuah kekalahan.
***
“Re....”
“Apa Ma?”
“Kamu ga main sama Q?” tanya ibuku santai.
“Enggak ma. Q sibuk banget katanya. Kenapa ma?”
“Enggak apa-apa. Aneh aja udah lama Q ga maen kesini?”
“Tau ma... sibuknya kebangetan dia ma.”
“Lalu laki-laki yang datang kemaren itu, pacar kamu Re?”
“Hah?? Yang mana ma?”
“Yang naek motor berisik banget itu lho... apa itu pacar kamu?” tanya mama penuh
selidik. Aku mencoba kembali mengingat-ingat.
“Ohh... Depe... bukan ma. Dia fans Re ma, tapi Re ga suka sama dia...”
“Oohh, kalo gitu Re suka sama siapa?” tanya mama sambil menkmati teh tariknya.
“Kenapa mama tiba-tiba tanya begitu?”
“Ya mama pengen tau aja. Umur kamu makin tua, tapi kamu ga ada pacar. Mama kan jadi kawatir...”
“Ikh... mama... ntar kalo udah waktunya juga aku punya kok...”
“Kalo sama Q gimana?”
“Ada apa sama Q ma?”
“Apa kamu suka sama Q?”
“Suka??”
“Iya...”
“Kenapa mama tanya seperti itu?”
“Karena mama ga pingin kamu menyesal...”
“Menyesal? Kenapa?”
“Karena Q sore ini berangkat ke Singapur untuk tes masternya disana. Entah kapan dia kembali ke Indonesia.”
“Apa????” teriakku terkejut.
“Q ke Singapur dan aku ga tau? Teman macam apa dia?” umpatku kesal dan menghembuskan nafas dengan kesal.
“Mama tau kamu sangat menyukai Q, selama ini kamu hanya bisa diam dan memperhatikan dia saja. Jadi susul saja dia kesana. Kemaren Bundanya Q telpon mama dan mengatakan semuanya. Q sangat mencintaimu namun karena ia terlalu pengecut ia memilih untuk pergi.”
“Enggak.... Re ga akan pergi. Q yang pengecut. Re ga akan mengalah untuk Q ma.” Ujarku mantap sambil pikiranku melayang entah kemana.
Maaf Q, aku menyukaimu namun aku tak bisa jika kamu meninggalkan aku seperti ini.
***
“Hoi... gimana kelas kamu? Asyik ga?” tanyanya tanpa lepas dari BB yang ada ditangannya.
Huh... pasti deh ga bisa lepas dari BB nya... pikirku dongkol.
“Asyik dari Hongkong..!! Temen kamu itu nyebelin banget tau...!!”
“Nyebelin gimana?” ujarnya kali ini ia berpaling dari BB nya dan menatap mataku. Cless... seperti ada embun yang mengalir di hatiku. Berdebar pula namun aku berusaha untuk biasa.
“Iya nyebelin pokoknya..!!” jawabku sambil berpaling. Ia duduk dengan rasa tertarik yang tinggi duduk di sebelahku dan menarikku.
“Nyebelin gimana sih Re? Emang Depe ngapain kamu?”
“Errrr.... enggak ngapa-ngapain sih. Tapi dia kalo ngajar overacting banget. Terutama matanya itu lhoo... dia suka banget maen mata sama aku. Sampai merinding aku...” ujarku kalem. Q tertawa melihat reaksiku yang mungkin agak sedikit berlebih.
“Kenapa tertawa?” tanyaku. Namun ia tetap tak bisa berhenti tertawa.
“Aaahhh sudahlah, cerita sama kamu itu sama aja kayak cerita sama tembok.!” Ujarku kesal sambil bangkit dari tempat duduk. Belum sampai kakiku melangkah Q memegang tanganku dan menahanku pergi.
“Iya yaa... jangan ngambek gitu donk Re. Hehehee... cuman lucu aja...” aku masih manyun.
“Kenapa sih aku ga masuk ke kelas kamu aja Q? Kelas kamu kayaknya lebih asik daripada temen kamu itu?”
“Jangan donk... kalo kamu masuk kelas aku bisa repot nanti...malah tambah kacau kalo ada kamu Re...” ujarnya sambil tertawa. Sementara itu aku masih belum bisa menenangkan hatiku yang terus berdegup kencang.
***
“Adik kau itu manis pisan...” ujar Depe kepadaku disela-sela makan siangku.
“Adikku yang mana?” tanyaku pura-pura tak mengerti.
“Adik kau yang masuk kelas aku itu...”
“Dia bukan adikku.!” Jawabku pendek.
“Ahh... siapapunlah itu¸ dia manis banget dimata aku. Tau ga kau?? Hatiku seperti sudah tercuri olehnya. Ahh... maling kecil adik kau itu...” ujarnya berapi-api.
Dia juga udah mencuri hatiku tolol. Hanya saja aku tak berani mengungkapkannya...
“Hei... kau kenapa bengong begitu? Makanlah... keburu makanan kau dingin itu...”
“Aahhh... berisik kau... pergilah sana.!” Pintaku yang sebenarnya ditujukan kepada galau di hatiku. Aihh... hatiku benar-benar terasa tertusuk timah panas. Bagaimana ini aku menenangkannya. Entahlah.
***
“Q, kamu sudah mantap dengan pilihan kamu?” tanya Bunda kepadaku sambil melihatku yang tengah asik sibuk dengan tumpukan pakaianku.
“Iya Bunda, ini udah menjadi pilihan Q. Bunda baik-baik disini yaa...” jawabku sambil memeluk Bunda.
“Iya, Bunda tahu ini pilihan kamu. Tapi bagaimana dengan Re? Apa kamu ga mau memberi tahunya?”
“Untuk apa Bunda? Disampingnya sekarang sudah ada Depe. Aku ga mau mengganggu kebahagiaannya...”
“Memangnya kamu yakin Re bahagia? Memangnya mereka sudah bersama?
“Depe cerita kalau ia sudah menyatakan perasaannya...”
“Lalu jawaban Re bagaimana?”
“Aku yakin, Re pasti menerimanya Bunda. Depe bisa membuatnya bahagia. Dibandingkan aku Bunda...”
“Akh... kamu terlalu banyak berfikir Q. Kapan pesawatmu akan terbang?”
“Besok sore Bunda, Bunda ga usah mengantarkan aku. Nanti bunda capek. Q berangkat sendiri saja ya...” ucapku tenang namun sebenarnya dihatiku benar-benar tertimbun kekecewaan yang besar. Iya, kecewa pada diriku sendiri karena kepengecutanku ini yang akhirnya membawaku pada sebuah kekalahan.
***
“Re....”
“Apa Ma?”
“Kamu ga main sama Q?” tanya ibuku santai.
“Enggak ma. Q sibuk banget katanya. Kenapa ma?”
“Enggak apa-apa. Aneh aja udah lama Q ga maen kesini?”
“Tau ma... sibuknya kebangetan dia ma.”
“Lalu laki-laki yang datang kemaren itu, pacar kamu Re?”
“Hah?? Yang mana ma?”
“Yang naek motor berisik banget itu lho... apa itu pacar kamu?” tanya mama penuh
selidik. Aku mencoba kembali mengingat-ingat.
“Ohh... Depe... bukan ma. Dia fans Re ma, tapi Re ga suka sama dia...”
“Oohh, kalo gitu Re suka sama siapa?” tanya mama sambil menkmati teh tariknya.
“Kenapa mama tiba-tiba tanya begitu?”
“Ya mama pengen tau aja. Umur kamu makin tua, tapi kamu ga ada pacar. Mama kan jadi kawatir...”
“Ikh... mama... ntar kalo udah waktunya juga aku punya kok...”
“Kalo sama Q gimana?”
“Ada apa sama Q ma?”
“Apa kamu suka sama Q?”
“Suka??”
“Iya...”
“Kenapa mama tanya seperti itu?”
“Karena mama ga pingin kamu menyesal...”
“Menyesal? Kenapa?”
“Karena Q sore ini berangkat ke Singapur untuk tes masternya disana. Entah kapan dia kembali ke Indonesia.”
“Apa????” teriakku terkejut.
“Q ke Singapur dan aku ga tau? Teman macam apa dia?” umpatku kesal dan menghembuskan nafas dengan kesal.
“Mama tau kamu sangat menyukai Q, selama ini kamu hanya bisa diam dan memperhatikan dia saja. Jadi susul saja dia kesana. Kemaren Bundanya Q telpon mama dan mengatakan semuanya. Q sangat mencintaimu namun karena ia terlalu pengecut ia memilih untuk pergi.”
“Enggak.... Re ga akan pergi. Q yang pengecut. Re ga akan mengalah untuk Q ma.” Ujarku mantap sambil pikiranku melayang entah kemana.
Maaf Q, aku menyukaimu namun aku tak bisa jika kamu meninggalkan aku seperti ini.
***
Kamis, 05 April 2012
Masih, terajam senyummu....
Tangisanku semakin keras, begitu juga dengan kawan-kawanku sejawat. Suara tangis mewarnai sore ini. Sementara itu Teh Ika masih semangat menampar kami dengan aksaranya yang halus. Dinginnya air conditioner tak lagi aku rasakan. Tubuhku bergetar, nafasku sesak. Namun hatiku terus terajam dengan rindu.
Alunan Koes Plus berganti dengan senandung lagu Ibu dari Melly Goeslaw. Fikiranku melayang jauh. Teringat pada pertengkaran-pertengkaran yang pernah aku alami dengan mama. Perbedaan pendapat yang tanpa sadar membuatnya terluka, sikapku yang selalu tanpa sadar menyalahkannya dan membuatnya terluka. Aku sungguh tak menyadarinya.
Mama, Ayah... alunan lagu ini terus mengusik hatiku. Rindu aku melihat senyumu Ayah, Mama. Rinduku melihat tawamu, melihat pancaran kebanggaan akan anakmu dari sorot matamu yang lembut, Ayah, Mama.
Ketika teh Ika membimbingku untuk berdiri, menyalami dan memelukku dengan hangat. Tangisku pecah. Bagai anak kecil yang kehilangan mainannya. Seperti aku, yang sedang jauh darimu dan merasa kehilangan senyumanmu. Hatiku membeku, lidahku kelu dan bahkan tiba-tiba saja lantai yang ku pijak ini tak lagi terasa dingin. Aku merindumu Ayah. Aku merindumu Mama. Simpankan senyum banggamu untuk anakmu yang akan terus mencintaimu.
Senin, 05 Maret 2012
Kamu, ?
Aku menghapus air mataku. Pagi ini aku menelan air mata diam-diam, karena aku ga ingin mereka tahu tentang kesedihanku. Ini karena aku ga mau membebani mereka dengan tekanan batin yang aku alami. Inilah aku, yang selalu tampak ceria di depan namun sebenarnya di dalam hati aku menangis. Ingin rasanya aku berbagi rasa sedih ini namun aku ga tau harus berbagi dengan siapa.
Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, waktunya mengantar pesanan makanan ke sekolah-sekolah. Aku hanya mengenakan jaket lusuh yang menutupi daster pink dipadu dengan celana panjang. Tanpa mencuci muka setelah menangis, aku menstater motor dan siap menjalankan tugasku.
Di persimpangan jalan, sembari aku melamun berfikir untuk mendapatkan penghasilan yang banyak tanpa bergenit ria aku di kagetkan oleh sebuah motor yang memotong jalanku. Perhatianku terus teralihkan. Aku melihat sosok yang duduk di bangku belakang tanpa menggunakan helm. Merasa kenal dengannya aku mencoba mendekat.
"Nano...!!" panggilku begitu yakin dengan wajah yang aku lihat. Ia menolehkan kepala kekanan dan kekiri. Mungkin mencari sumber suara yang telah memanggilnya.
"Nanooo....!!" panggilku lagi. Kali ini si pengendara motor yang duduk di depan memelankan motornya sehingga aku dapat mensejajari mereka.
"Eh, kamu Win, mau kemana?" ucap Nano langsung mengenaliku. Jelaslah, secara dulu kita adalah musuh bebuyutan ketika masih duduk di bangku SD.
"Mau anter pesenan nih, kamu mau kemana Nan?"
"Habis ambil printer, eh katanya si Pijar mau nikah, kapan?"
"Iya, undangannya udah di aku nih Nan, dateng yaa... nanti kita kumpul-kumpul dulu di SD biar bisa berangkat bareng-bareng,"
"Iya deh, terus masalah kaos gimana?"
"Udah beres, Trias udah atur semuanya. Tinggal yang belum bayar aja. Tolong donk Nan, bantu nagih ke mereka." pintaku sambil terus mensejajari laju motornya.
Tiba-tiba pengendara motor yang duduk didepan membuka kaca helm-nya yang gelap dan menyapaku.
"Win, kamu ga kangen aku?" aku takjub dengan orang yang memanggilku sehingga aku spontan menghentikan motorku dan menatapnya dengan bibir setengah terbuka.
"Win, Hoi...!!" teriak Nano sambil melambaikan tangan di depanku.
"Hahahahaa... kamu kaget ya kenapa aku ada disini?" ujar pengendara motor itu. Aku segera tersadar dari keterkejutanku dan mencoba tersenyum.
"Dimas, kapan pulang? lama tak jumpa..." aku mengulurkan tanganku dan dia membalasnya.
"Matamu semakin besar, habis nangis?"
Aku baru ingat bahwa aku ga sempat mencuci muka setelah menangis. Pasti mukaku kelihatan lusuh dan berantakan ditambah lagi dengan bajuku yang apa adanya. Hanya memakai daster tidur dan jaket lusuh. Oh My God... beginikah pertemuan pertama kami lagi? setelah 4 tahun berpisah?.
"Hahahahaa... enggak DIm, biasa, kerjaan numpuk..." ucapku berdalih.
"Win, ntar sore jalan yuk. Sekalian reuni," ajak Nano, seolah-olah ia tahu bahwa di tatapan mata kami ada rindu disitu. Aku pun segera merasa senang dengan kesempatan itu.
"Iya deh, Dimas ikut kan?"
"Jelaslah, mumpung masih di Indonesia,"
"Emang mau kemana lagi?"
"Aku mau ke Belanda, mengunjungi calon mertuaku." ucapnya enteng. Aku tertegun dengan ucapannya. Setelah itu aku segera berpamitan kepada mereka dan berlalu.
Pagi ini, aku disuguhi secangkir air mata lagi. Dari kamu... Laki-laki masa laluku.
Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, waktunya mengantar pesanan makanan ke sekolah-sekolah. Aku hanya mengenakan jaket lusuh yang menutupi daster pink dipadu dengan celana panjang. Tanpa mencuci muka setelah menangis, aku menstater motor dan siap menjalankan tugasku.
Di persimpangan jalan, sembari aku melamun berfikir untuk mendapatkan penghasilan yang banyak tanpa bergenit ria aku di kagetkan oleh sebuah motor yang memotong jalanku. Perhatianku terus teralihkan. Aku melihat sosok yang duduk di bangku belakang tanpa menggunakan helm. Merasa kenal dengannya aku mencoba mendekat.
"Nano...!!" panggilku begitu yakin dengan wajah yang aku lihat. Ia menolehkan kepala kekanan dan kekiri. Mungkin mencari sumber suara yang telah memanggilnya.
"Nanooo....!!" panggilku lagi. Kali ini si pengendara motor yang duduk di depan memelankan motornya sehingga aku dapat mensejajari mereka.
"Eh, kamu Win, mau kemana?" ucap Nano langsung mengenaliku. Jelaslah, secara dulu kita adalah musuh bebuyutan ketika masih duduk di bangku SD.
"Mau anter pesenan nih, kamu mau kemana Nan?"
"Habis ambil printer, eh katanya si Pijar mau nikah, kapan?"
"Iya, undangannya udah di aku nih Nan, dateng yaa... nanti kita kumpul-kumpul dulu di SD biar bisa berangkat bareng-bareng,"
"Iya deh, terus masalah kaos gimana?"
"Udah beres, Trias udah atur semuanya. Tinggal yang belum bayar aja. Tolong donk Nan, bantu nagih ke mereka." pintaku sambil terus mensejajari laju motornya.
Tiba-tiba pengendara motor yang duduk didepan membuka kaca helm-nya yang gelap dan menyapaku.
"Win, kamu ga kangen aku?" aku takjub dengan orang yang memanggilku sehingga aku spontan menghentikan motorku dan menatapnya dengan bibir setengah terbuka.
"Win, Hoi...!!" teriak Nano sambil melambaikan tangan di depanku.
"Hahahahaa... kamu kaget ya kenapa aku ada disini?" ujar pengendara motor itu. Aku segera tersadar dari keterkejutanku dan mencoba tersenyum.
"Dimas, kapan pulang? lama tak jumpa..." aku mengulurkan tanganku dan dia membalasnya.
"Matamu semakin besar, habis nangis?"
Aku baru ingat bahwa aku ga sempat mencuci muka setelah menangis. Pasti mukaku kelihatan lusuh dan berantakan ditambah lagi dengan bajuku yang apa adanya. Hanya memakai daster tidur dan jaket lusuh. Oh My God... beginikah pertemuan pertama kami lagi? setelah 4 tahun berpisah?.
"Hahahahaa... enggak DIm, biasa, kerjaan numpuk..." ucapku berdalih.
"Win, ntar sore jalan yuk. Sekalian reuni," ajak Nano, seolah-olah ia tahu bahwa di tatapan mata kami ada rindu disitu. Aku pun segera merasa senang dengan kesempatan itu.
"Iya deh, Dimas ikut kan?"
"Jelaslah, mumpung masih di Indonesia,"
"Emang mau kemana lagi?"
"Aku mau ke Belanda, mengunjungi calon mertuaku." ucapnya enteng. Aku tertegun dengan ucapannya. Setelah itu aku segera berpamitan kepada mereka dan berlalu.
Pagi ini, aku disuguhi secangkir air mata lagi. Dari kamu... Laki-laki masa laluku.
Selasa, 14 Februari 2012
NOA
Oh My Gosh...!!
Aku menstater mobil dengan terburu-buru pagi ini. Aku di kejar deadline kerjaan yang mulai menumpuk dan juga pagi ini tepat jam 9 pagi akan ada meeting dengan 'pembesar' untuk pembukaan cabang baru. Ya, menurut rumor aku akan di pindah di cabang baru di luar kota. Sebenernya ini agak berat karena yah, aku sudah bekerja disini hampir 1 tahun dan aku akan di pindah di kantor cabang yang baru. Artinya, aku harus menyesuaikan lagi.
Setelah bermacet ria akhirnya aku sampai di kantor tepat pukul 8.
"Pagi Pak," sapaku pada petugas keamanan kantor. Seperti biasa aku selalu menyapa siapa saja yang sudah hadir dikantor setiap pagi.
"Pagi Neng," jawabnya ramah. Aku melayangkan senyum sambil terus berjalan. Dibelakang aku mendengar ada yang sedang terkikik. Aku menoleh ke sumber suara, mereka langsung menutup mulut dan kembali bekerja. Aneh pikirku. Aku terus berjalan menuju cubicleku.
"Mbak Pila, ituuuu," tiba-tiba Exa memanggilku dari belakang sambil menunjuk. Aku kebingungan dengan arah yang ditunjuk oleh Exa.
"Mbak, resreting belakang belum di tutup." ujarnya pelan. Spontan tanganku meraba rok bagian belakang dan benar saja, aku lupa menutup resreting karena keburu-buru pagi tadi. Oh My God aku menunduk malu dan segera duduk di cubicleku.
"Morning Pila, jangan lupa nanti jam 9 ada rapat ya!" pak Boss lewat di depanku dan mengingatkan aku.
"Baik Pak,"
Jam 9 tepat meeting dimulai. Para 'pembesar' mulai bercuap-cuap tentang pembukaan kantor cabang baru. Aku dengan enggan mendengarkan mereka berdiskusi dan berdebat tentang pembukaan ini.
"Pila, mulai minggu depan siap di pindah kerja di Yogyakarta?" tanya pak Himawan. Salah satu 'pembesar' di perusahaanku.
"Jogja Pak? baik Pak," jawabku cepat. Aku sangat setuju jika memang aku dipindahkan ke Jogja. Karena dia saat ini juga sedang di pindah tugaskan di Jogja. Jadi otomatis itu akan mendekatkan kita.
Setelah berjam-jam meeting akhirnya selesai juga.
Morning Noa, happy valentine and i have a good news for you. Next week i will move on into your city. :)
Setelah aku mengirimkan pesan singkat kepadanya dan tak lupa aku mengucapkan happy valentine -mengingat hari ini adalah hari valentine dan aku tau dia selalu merayakannya bersama keluarga- aku mulai membereskan urusan yang belum selesai di kantor, agar ketika aku mulai pindah di kantor yang baru aku sudah tidak memiliki tanggungan lagi.
Morning too beautiful lady, thanks yaa... I'm glad to hear that. So, see you very soon in my city.
Aku tersenyum membaca balasan sms dari dia. Selalu seperti itu, membalas sms dengan singkat namun cukup membuat aku tersenyum. Aku meletakkan handphoneku dan mulai berselanjar di dunia maya. Seperti biasa, log-in berbagai situs jejaring dan melihat update-an dari temen-temen semua.
Astaga...!!
Aku terbelalak kaget melihat update dari Noa, beberapa menit yang lalu ia mengupload foto ini. Aku memandang foto-foto itu dengan tatapan nanar. Aku segera mengirimkan pesan singkat kepadanya.
Noa, Oh Ya Allah... benarkah ini? kenapa ga ngabarin aku??
Aku refresh lagi berkali-kali berharap bahwa foto itu adalah bohong. Namun, tetap saja foto itu yang nampak. Tanpa sadar air mataku meleleh dengan sendirinya. Sebuah album foto yang baru di upload 15 menit yang lalu yang berjudul 'my precious wedding' terpampang jelas di layar komputerku.
Noa, Oh Ya Allah, benarkah ini... benarkah diantara kita benar-benar sudah usai??
-tyz-
Aku menstater mobil dengan terburu-buru pagi ini. Aku di kejar deadline kerjaan yang mulai menumpuk dan juga pagi ini tepat jam 9 pagi akan ada meeting dengan 'pembesar' untuk pembukaan cabang baru. Ya, menurut rumor aku akan di pindah di cabang baru di luar kota. Sebenernya ini agak berat karena yah, aku sudah bekerja disini hampir 1 tahun dan aku akan di pindah di kantor cabang yang baru. Artinya, aku harus menyesuaikan lagi.
Setelah bermacet ria akhirnya aku sampai di kantor tepat pukul 8.
"Pagi Pak," sapaku pada petugas keamanan kantor. Seperti biasa aku selalu menyapa siapa saja yang sudah hadir dikantor setiap pagi.
"Pagi Neng," jawabnya ramah. Aku melayangkan senyum sambil terus berjalan. Dibelakang aku mendengar ada yang sedang terkikik. Aku menoleh ke sumber suara, mereka langsung menutup mulut dan kembali bekerja. Aneh pikirku. Aku terus berjalan menuju cubicleku.
"Mbak Pila, ituuuu," tiba-tiba Exa memanggilku dari belakang sambil menunjuk. Aku kebingungan dengan arah yang ditunjuk oleh Exa.
"Mbak, resreting belakang belum di tutup." ujarnya pelan. Spontan tanganku meraba rok bagian belakang dan benar saja, aku lupa menutup resreting karena keburu-buru pagi tadi. Oh My God aku menunduk malu dan segera duduk di cubicleku.
"Morning Pila, jangan lupa nanti jam 9 ada rapat ya!" pak Boss lewat di depanku dan mengingatkan aku.
"Baik Pak,"
Jam 9 tepat meeting dimulai. Para 'pembesar' mulai bercuap-cuap tentang pembukaan kantor cabang baru. Aku dengan enggan mendengarkan mereka berdiskusi dan berdebat tentang pembukaan ini.
"Pila, mulai minggu depan siap di pindah kerja di Yogyakarta?" tanya pak Himawan. Salah satu 'pembesar' di perusahaanku.
"Jogja Pak? baik Pak," jawabku cepat. Aku sangat setuju jika memang aku dipindahkan ke Jogja. Karena dia saat ini juga sedang di pindah tugaskan di Jogja. Jadi otomatis itu akan mendekatkan kita.
Setelah berjam-jam meeting akhirnya selesai juga.
Morning Noa, happy valentine and i have a good news for you. Next week i will move on into your city. :)
Setelah aku mengirimkan pesan singkat kepadanya dan tak lupa aku mengucapkan happy valentine -mengingat hari ini adalah hari valentine dan aku tau dia selalu merayakannya bersama keluarga- aku mulai membereskan urusan yang belum selesai di kantor, agar ketika aku mulai pindah di kantor yang baru aku sudah tidak memiliki tanggungan lagi.
Morning too beautiful lady, thanks yaa... I'm glad to hear that. So, see you very soon in my city.
Aku tersenyum membaca balasan sms dari dia. Selalu seperti itu, membalas sms dengan singkat namun cukup membuat aku tersenyum. Aku meletakkan handphoneku dan mulai berselanjar di dunia maya. Seperti biasa, log-in berbagai situs jejaring dan melihat update-an dari temen-temen semua.
Astaga...!!
Aku terbelalak kaget melihat update dari Noa, beberapa menit yang lalu ia mengupload foto ini. Aku memandang foto-foto itu dengan tatapan nanar. Aku segera mengirimkan pesan singkat kepadanya.
Noa, Oh Ya Allah... benarkah ini? kenapa ga ngabarin aku??
Aku refresh lagi berkali-kali berharap bahwa foto itu adalah bohong. Namun, tetap saja foto itu yang nampak. Tanpa sadar air mataku meleleh dengan sendirinya. Sebuah album foto yang baru di upload 15 menit yang lalu yang berjudul 'my precious wedding' terpampang jelas di layar komputerku.
Noa, Oh Ya Allah, benarkah ini... benarkah diantara kita benar-benar sudah usai??
-tyz-
Langganan:
Postingan (Atom)