Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 September 2016

unidentification we are

I loved to make you shy.
Your cheekbones are making me overwhelmed.
Remember me when you pass this way.
Remember me when you listen this song.
I just try to make you know, Im here even thought u'll forget me (one day).

Word by word that you sent to me
makes me wanna jump over there
and give you a bunch of bomb.

When you leave the word behind me
without a single ring,
I see the empty wall.

Fluttering to start first
and now cant ended easily.

Arguing
but we embrace the same thing.
The joy we cant see,
the thing we cant touch.

This night.

Like the maze,
im following the star
and getting lost in every line that you throw to me.
You built your self
but you found me in the mirror.

Am I nothin' to you?


-tyz-
Inspirated by 5743e57 - uptown girl

Jumat, 01 Januari 2016

Pijar Semalam

Ini seperti mimpi.

Terus kubasuh wajahku dengan air dingin tanpa henti.
"Aku bermimpi." Ujarku terus menerus layaknya mantra.
Aku bermimpi namun aku tak ingin terbangun lagi.

Ketika jemari ini saling bertaut, lalu beradu mata pada satu tatapan yang teduh
Aku menyadari, ini bukan mimpi. Semburat merah mewarnai pipi ini.
Tidak menghiraukan seberapa banyak aksara yang keluar,
hingga lupa bagaimana oksigen bermain dalam tubuh yang segar.

"Aku menginginkannya."

Lalu, kita terlena pada satu waktu.
Dimana kita percaya itu milik kita. Dan hanya tentang kita.
Lengah pada gerbang-gerbang yang menjadi pijakan kita.

Kita inginkan waktu berlalu begitu cepat. Karena gelora yang mulai pekat.
Beradu pada denting-denting sepertiga malam terakhir. Tanpa jeda. Tanpa lelah.

Lalu, waktu seolah-olah luluh pada aksara yang terus berkutat pada ketulusan.
Sementara ia tengah menyiapkan sebuah pesta tak terduga untuk kita.

Seperti pendar yang berpijar.
Kembang api yang turut memberikan keindahan.

Terbalik. Berbalik.

Mungkin, seperti itulah kamu.

Bukan.

Seperti itulah kita.

Melesat jauh ke awang-awang.
Berpendar.
Berpijar.
Namun sesaat.

Lalu, redup.
dan jatuh.

Pada sisa-sisa aroma kertas terbakar,
Pada awang-awang yang menerima keindahan,
Lalu, pada tanah yang menerima sisa...

Kita. Usai.

Lalu, kembali menjadi mimpi yang indah semalam.


-tyz-
010116
In My Room

Senin, 30 Maret 2015

Cerita Kita

Aku fikir kita tengah tersesat. Tanpa peta yang jelas. Tentang tujuan akhir yang kita cari bersama.

Aku fikir, kita tengah terpedaya. Alunan waktu yang menggugurkan keraguan dan luka, berganti binar yang tak terelakan.

Mungkin kita lengah tentang masa yang tak bisa kita kuasai bersama. Mencumbu malam dengan gairah khas anak muda.

Sekali lagi...

Mungkin kita lengah pada waktu yang kita kira milik kita.

Lalu...

Waktu tidak pernah ingin berhenti, seperti seberapa keras kita menghentikan kereta kencana untuk waktu yang lama, ia tetap harus berjalan berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Layaknya jarum jam yang tak bisa berhenti. Berputar dan berpindah dari satu angka ke angka yang lain.

Seperti itu kisah kita.

Tak pernah berhenti disitu.

Waktu membawamu semakin jauh... jauh hingga aku lelah, berbasa basi dengan waktu demi menanti kepastian yang tak pernah pasti. Waktu pula yang menghadirkan ia sebagai labuhan mu, dan meyakinkanmu untuk berhenti disana.

Apa yang dapat ku perbuat?

Pada tempat dimana aku menanti, mengemasi setiap kenangan yang tersisa. Mendapati bahwa apa yang mereka katakan menjadi suatu pembenaran yang tak terpatahkan.

Sejak awal, seharusnya aku meninggalkanmu. Tanpa spasi keraguan sedikitpun.
Seharusnya....

Maka, pendar yang telah redup dengan berbagai koper berisi mimpi dan cita-cita, aku melepasmu. Melepas segala pengertian dan kesabaran yang kau tawarkan dengan secawan senyum.

Lalu,


Pada sobekan tiket di peron, dan pada sapaan ramah petugas berseragam, aku katakan padanya, diujung salah satu sudut tempat ini aku meninggalkan satu tas berisi perasaan yang tak ingin aku miliki lagi. Ditemani dengan snack kenangan yang ingin aku tanggalkan. Biarkan saja disana, hingga membusuk dan mati. Aku tak ingin menjumputnya lagi.

Dan pada lonceng berikutnya, satu persatu anak tangga kujajaki menuju sebuah gerbong yang akan memberikan cerita baru untukku.


-ty'z-
Senin, 10 Nov 2014 05.17
Dalam ruang tunggu Stasiun Gambir

Senin, 15 September 2014

Kamu...

'Kamu yakin ga mau anterin aku?' tanyaku pada Putra.

'Buat apa? buat ngeliatin kamu pergi?' jawabnya sambil menahan senyum.

'Ikh...kok kamu senyum-senyum sih?'

'Inget kata mama aja tentang kamu. Makanya sampai sekarang kamu ga bisa move on dari mantanmu,'

'Ini ga ada hubungannya sama mantan tauuuu, aku udah move on, cuman belom penggantinya aja...'

'Sama aja itu mah,' jawabnya sambil mengusap ubun-ubun kepalaku. Ya seperti inilah hubungan kami. Dekat namun tak dekat. Jauh namun tak jauh.

Semarang malam itu benar-benar terasa dingin setelah di guyur hujan sore tadi. Di pojok Terracota coffee ini tempat dimana aku mengadakan perpisahan dengannya. Malam ini adalah malam terakhir aku di Indonesia, tepatnya di Semarang. Esok aku akan terbang ke Korea untuk menempuh gelar masterku.

Di Terracota coffee ini tempatnya sangat tersembunyi. Klasik namun elegan. Kawanku Ibas pernah berkata, 'tempat ini cocok untuk tempat selingkuh' namun aku tak pernah setuju dengannya. Karena bagiku sebenarnya tidak ada tempat untuk selingkuh. Namun tempat ini lebih enak untuk merilekskan pikiran. Karena di dekat mini bar terletak beberapa rak buku beranekaragam genre. Aku paling suka membaca novel dari cafe ini. Tidak pernah aku membawanya pulang, namun sering aku ketiduran disini hanya karena terlalu asik membaca buku.

Coffee yang disediakan disini sangat beragam. Kita boleh menyeduhnya sendiri atau memesan pelayan untuk menyeduhkannya. Coffee kesukaanku adalah Java Coffee. Sangat kental dan nikmat. Pelayan disini pasti hafal dengan seleraku. Java Coffee dan sepiring kentang goreng untuk menemaniku menghabiskan rindu disini.

Dan di cafe inilah aku menemukan sosok Putra yang juga tengah asik tenggelam dengan tumpukan buku-buku arsiteknya. Cukup menarik dengan kacamata yang miring sebelah karena habis terinjak. Cafe ini mengantarkan kami kepada rindu-rindu yang menjalar sepi. Aksara terbungkam mulai berlomba-lomba keluar, namun terhenti karena hadirnya seseorang dari masa lampauku.

'Putra...'

'Hmmmm...' jawabnya tanpa melepaskan pandangan dari buku yang ia baca.

'Kamu tau kan Put, sejak aku putus dengan dia aku ga pernah dekat dengan yang lain?'

'Tau, makanya itu kamu belum bisa move on kan?'

'Sebenernya Put.....,'

'Sebenernya apa?'

'Ini adalah malam terakhir aku di Semarang, aku sudah 1 tahun ini suka sama orang. Bolehkah aku mengungkapkannya? sebelum aku meninggalkan Semarang?'

'Hah?? kamu naksir orang?? siapa?' tanya kaget dan menutup buku yang ia baca. Aku hanya diam bergeming. Matanya mencari-cari kebenaran di mataku. Aku hanya menunduk. Hatiku berdebar tak menentu. Pandanganku semakin tak focus dan gugup.

'Siapa Z??' tanyanya lagi. Kamu... jawabku namun hanya dalam hati saja. Aku tau, jika aku mengatakannya maka hubungan ini pasti akan berakhir begitu saja, namun jika tidak aku takut aku tak akan pernah punya waktu lagi untuk mengungkapkannya.

Kamis, 15 Maret 2012

Ini, saatnya....

Aku melangkah dengan ringan melalui beberapa orang yang sedang asik berdiskusi tentang suatu hal. Seperti biasanya, aku melayangkan senyum manisku dan menyapa mereka dengan ramah. Tidak ada yang istimewa hari ini, selain jadwalku mengisi acara di sebuah stasiun radio di kotaku yang kecil ini. Siaran favoritku dan yang paling aku tunggu.

Aku memasuki koridor studio dengan langkah kaki yang tertahan dan pelan karena sedang ada rekaman di studio 4 sedangkan aku akan siaran di studio 2. Aku menyapa Pak Hilman, Bu Tike dan Pak Yoga dengan semangat namun sepertinya mereka tak menyadari kedatanganku. Aku pun melanjutkan berjalan menuju studio 2. Sepi. Ruang tamu yang biasa ramai oleh anak-anak magang sore ini terlihat sepi. Hanya terdengar suara radio. Aku melihat kedalam studio, ada mbak Kiki penyiar paling supel menurutku tengah asik bercuap-cuap sendiri. Aku melambaikan tangan kearahnya, namun mungkin karena konsentrasinya yang penuh ia tidak menyadari aku ada.

Aku melihat jam yang menempel didinding dengan manis. Masih jam setengah 4, bearti masih ada setengah jam lagi menunggu fikirku.

Sambil menunggu, aku memperhatikan mbak Kiki siaran dengan wajah yang terlihat seperti dipaksakan tertawa. Meskipun terdengar renyah seperti biasanya, namun wajahnya benar-benar terlihat berbeda dari biasanya.

Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 4 sore. Mbak Kiki mengakhiri siarannya dan keluar dari studio. Ia menatapku, aku tersenyum, Ia melangkah terus melewati aku dan mengambil sebuah Aqua gelas dan masuk lagi keruan studio, meninggalkanku. Aku tersenyum dan terus memperhatikan dia. Ia meletakkan Aqua itu di meja seperti biasanya aku menaruh Aqua. Itu Aqua untukku. Aku menyadari itu.

"Baik sahabat kreatif, jumpa lagi dengan Kiki di Bahana Sastra," bukanya sambil memainkan mixernya.

"Hari ini kita mau membahas apa ya?Hmmmm...."

"Sepertinya hari ini cocok banget buat nge-bahas profile dari seorang penulis muda yang bernama Nirmala..."

"Sebelum kita mulai, yang mau kirim puisi boleh kirim ke noor 081325112212." Ucapnya sambil memulai lagu yang berjudul Saat Terakhir dari ST12.

Mbak Kiki melepas earphonenya dan memejamkan mata. Seolah-olah ia sedang menghayati lagu yang ia putar itu. Sedetik kemudian, aku melihat air matanya meleleh dan aku hanya mampu tersenyum.

"Balik lagi barengan Kiki di Bahana Sastra. Ups... ternyata sudah ada beberapa pesan yang masuk nih -- Sore mbak Kiki, kok sendirian aja siarannya, mbak Nirmala kemana?-- " Aku mendengar suaranya tercekat seperti sedang menahan sesuatu.

"Aduh, kemana ya mbak Nirmala yang biasa nemenin aku siaran?" gumamnya.

"Sahabat kreatif, hari ini aku siaran sendirian dan membahas profile dari seorang penulis muda bernama Nirmala. Sahabar kreatif, pagi ini aku mendapat telfon bahwa teman kita yang biasa mendampingi aku saat siaran telah dipanggil Tuhan Yang Maha Esa, mari kita sejenak berdoa memohon kedamaian untuk NIrmala," Kiki mulai sesenggukan. Aku kembali tersenyum, Ini saatku pergi, batinku, surga sudah menanti kedatanganku.


Senin, 05 Maret 2012

Kamu, ?

Aku menghapus air mataku. Pagi ini aku menelan air mata diam-diam, karena aku ga ingin mereka tahu tentang kesedihanku. Ini karena aku ga mau membebani mereka dengan tekanan batin yang aku alami. Inilah aku, yang selalu tampak ceria di depan namun sebenarnya di dalam hati aku menangis. Ingin rasanya aku berbagi rasa sedih ini namun aku ga tau harus berbagi dengan siapa.

Jam sudah menunjukan pukul 7 pagi, waktunya mengantar pesanan makanan ke sekolah-sekolah. Aku hanya mengenakan jaket lusuh yang menutupi daster pink dipadu dengan celana panjang. Tanpa mencuci muka setelah menangis, aku menstater motor dan siap menjalankan tugasku.

Di persimpangan jalan, sembari aku melamun berfikir untuk mendapatkan penghasilan yang banyak tanpa bergenit ria aku di kagetkan oleh sebuah motor yang memotong jalanku. Perhatianku terus teralihkan. Aku melihat sosok yang duduk di bangku belakang tanpa menggunakan helm. Merasa kenal dengannya aku mencoba mendekat.

"Nano...!!" panggilku begitu yakin dengan wajah yang aku lihat. Ia menolehkan kepala kekanan dan kekiri. Mungkin mencari sumber suara yang telah memanggilnya.

"Nanooo....!!" panggilku lagi. Kali ini si pengendara motor yang duduk di depan memelankan motornya sehingga aku dapat mensejajari mereka.

"Eh, kamu Win, mau kemana?" ucap Nano langsung mengenaliku. Jelaslah, secara dulu kita adalah musuh bebuyutan ketika masih duduk di bangku SD.

"Mau anter pesenan nih, kamu mau kemana Nan?"

"Habis ambil printer, eh katanya si Pijar mau nikah, kapan?"

"Iya, undangannya udah di aku nih Nan, dateng yaa... nanti kita kumpul-kumpul dulu di SD biar bisa berangkat bareng-bareng,"

"Iya deh, terus masalah kaos gimana?"

"Udah beres, Trias udah atur semuanya. Tinggal yang belum bayar aja. Tolong donk Nan, bantu nagih ke mereka." pintaku sambil terus mensejajari laju motornya.

Tiba-tiba pengendara motor yang duduk didepan membuka kaca helm-nya yang gelap dan menyapaku.

"Win, kamu ga kangen aku?" aku takjub dengan orang yang memanggilku sehingga aku spontan menghentikan motorku dan menatapnya dengan bibir setengah terbuka.

"Win, Hoi...!!" teriak Nano sambil melambaikan tangan di depanku.

"Hahahahaa... kamu kaget ya kenapa aku ada disini?" ujar pengendara motor itu. Aku segera tersadar dari keterkejutanku dan mencoba tersenyum.

"Dimas, kapan pulang? lama tak jumpa..." aku mengulurkan tanganku dan dia membalasnya.

"Matamu semakin besar, habis nangis?"

Aku baru ingat bahwa aku ga sempat mencuci muka setelah menangis. Pasti mukaku kelihatan lusuh dan berantakan ditambah lagi dengan bajuku yang apa adanya. Hanya memakai daster tidur dan jaket lusuh. Oh My God... beginikah pertemuan pertama kami lagi? setelah 4 tahun berpisah?.

"Hahahahaa... enggak DIm, biasa, kerjaan numpuk..." ucapku berdalih.

"Win, ntar sore jalan yuk. Sekalian reuni," ajak Nano, seolah-olah ia tahu bahwa di tatapan mata kami ada rindu disitu. Aku pun segera merasa senang dengan kesempatan itu.

"Iya deh, Dimas ikut kan?"

"Jelaslah, mumpung masih di Indonesia,"

"Emang mau kemana lagi?"

"Aku mau ke Belanda, mengunjungi calon mertuaku." ucapnya enteng. Aku tertegun dengan ucapannya. Setelah itu aku segera berpamitan kepada mereka dan berlalu.

Pagi ini, aku disuguhi secangkir air mata lagi. Dari kamu... Laki-laki masa laluku.